Kisah Frank Lowy Jadi ORang Terkaya Di Australia

Kisah-Frank-Lowy-Jadi-ORang-Terkaya-Di-Australia

orangkayabaru – Frank Lowy saat ini merupakan salah satu orang terkaya di Australia. Mengutip Forbes, kekayaannya mencapai US$ 6,2 miliar atau setara dengan Rp 86,8 triliun (kurs Rp 14.000).

Tapi siapa sangka, Lowy dulunya merupakan korban dan pengungsi perang dunia II asal Eropa yang datang ke Australia. Kini ia bersama ketiga anaknya berhasil merajai bisnis ritel di Australia melalui Westfield Grup. Selain itu Lowy juga mendominasi ritel di London dan Australia.

Westfield Grup merupakan sebuah perusahaan yang dia dirikan dan kini menjadi bisnis yang menggurita di Australia. Mengutip laman resmi lowyinstitute.org ayah dari David, Peter dan Steven ini mulai mendirikan pusat perbelanjaan pertamanya di Sydney pada 1959.

Saat perang terjadi, ayah Lowy hilang dan ia tak bertemu dengan orang tuanya. Akhirnya ia harus pindah ke Budapest, Hungaria untuk menghindar dari penangkapan Nazi dan polisi rahasia di sana.

Menjadi pengungsi bukanlah hal yang menyenangkan untuk siapapun termasuk Lowy. Ia merasa kesepian di kamp pengungsian.

Pada 1946 Lowy berhasil mendarat di Prancis dan mulai berpindah ke Sde Ya’akov bersama dengan Haganah dan Golani Brigade saat perang Arab-Israel. Kemudian pada 1952 Lowy sampai di Australia dan memulai bisnis pengiriman barang kecil-kecilan.

Nah pada 1953 Lowy bertemu dengan sesama imigran Hungaria bernama John Saunders dan ini merupakan cikal bakal bisnis Westfield Development Corporation. Secara bertahap mereka mulai memperluas pusat perbelanjaan di Australia dan Amerika Serikat (AS).

Baca Juga : Aliko Dangote Orang Terkaya Di Afrika

Dia mengubah nama menjadi Westfiel Grup. Pada 1987 Saunders meninggalkan perusahaan dengan menjual seluruh sahamnya. Lowy tetap gigih, ia membawa perusahaanya ke Selandia Baru dan Inggris untuk melebarkan sayap.

“Jangan menyerah, orang tidak mengerti perjuangan anda. Apa yang anda hadapi, tapi anda harus menemukan cara untuk maju. Jalan itu harus memutar, mencari arah dan banyak rintangan anda harus yakin sangat kuat dan akan berhasil, kalau tidak anda akan tergilas,” ujar Lowy.

Bersama ketiga anaknya, David, Peter dan Steven dia juga mendirikan sebuah perusahaan investasi yang diberi nama Lowy Family grup yang saat ini sudah berada di tiga tempat yakni New York, Los Angeles dan Sydney. Sebagai ayah, ketiga anak Lowy menganggap dirinya sebagai ‘ketua geng’ yang benar-benar mengarahkan dan mengajarkan tentang bisnis keluarganya.

Selain menjalankan bisnis pusat perbelanjaan, Lowy kini juga aktif di lembaga independen yang mempelajari masalah utama terkait keamanan nasional Israel dan Timur Tengah. Selain pria kelahiran Slovakia 88 tahun lalu ini juga gemar ikut serta dalam kegiatan filantropis.

Hal ini karena ketiga putranya memiliki penyakit mata yang tak bisa disembuhkan. Akhirnya ia mendirikan sebuah lembaga internasional untuk meneliti penyakit-penyakit tersebut.

Aliko Dangote Orang Terkaya Di Afrika

Aliko-Dangote-Orang-Terkaya-Di-Afrika

orangkayabaru – Ketertarikan berbisnis sedari Sekolah Dasar (SD) mungkin telah menuntun Aliko Dangote menjadi orang terkaya di Afrika. Bagaimana tidak?

Ketertarikan tersebut telah membawa Dangote membuatnya bergelimang harta. Forbes mencatat total kekayaan pria kelahiran 1957 tersebut mencapai US$9,6 miliar.

Kekayaan tersebut menjadikannya sebagai orang terkaya nomor 136 di jagat raya dan di Benua Afrika.

Kesuksesannya tersebut didapat Dangote melalui sebuah proses yang panjang. Proses dimulai ketika ia masih SD.

Dengan berbekal uang saku yang diberikan orang tuanya untuk bersekolah kala itu, ia membeli permen. Permen kemudian ia jual kembali demi mendapatkan keuntungan.

Ketertarikan tersebut berlanjut sampai dewasa. Untuk mendukung ketertarikannya berbisnis tersebut ia menimba ilmu bisnis ke Universitas Al Azhar, Mesir.

Lulus pada 1977, ia langsung tancap gas. Dangote yang saat itu berusia 21 tahun kembali ke Nigeria.

Ia meminjam modal US$3.000 kepada pamannya. Pinjaman memungkinkannya untuk mengimpor komoditas lunak dengan harga grosir dari pemasok internasional.

Dua impor utamanya adalah beras dari Thailand dan gula dari Brasil. Dia kemudian menjual barang-barang secara eceran kepada konsumen di desanya dengan harga yang miring tapi menguntungkan.

Bisnis yang dijalankannya meraih untung besar. Dalam sebuah wawancara dengan Forbes, Dangote mengklaim ia bisa mendapatkan laba bersih US$10 ribu per hari.

Tak mengherankan, dalam waktu kurang dari tiga bulan ia sudah berhasil mengembalikan pinjaman ke pamannya.

Usaha Dangote terus berkembang. Ia memperluas usahanya ke perdagangan komoditas lain, salah satunya beras. Bahkan, pada 1981 ia mendirikan dua perusahaan, Dangote Nigeria Limited dan Blue Star Services.

Perusahaan dirikan demi mendapatkan lisensi impor komoditas secara besar-besaran. Dari perusahaan yang didirikannya tersebut, ia berhasil mendapatkan izin impor berbagai komoditas seperti baja, makanan bayi dan produk aluminium termasuk semen.

Keberhasilan tersebut membuat bisnisnya kian bersaing dengan Lafarge, sebuah perusahaan Perancis yang saat itu menjadi pemasok sebagian besar semen di Benua Afrika.

Pada 1986, ia melebarkan saya bisnisnya. Perusahaannya berkonsentrasi pada impor garam, gula, beras dalam jumlah besar.

Ia juga merambah bisnis angkutan dan perbankan dengan membeli saham ekuitas di Liberty Merchant Bank dan International Trust Bank (sebelumnya Gamji Bank).

Ekspansi bisnis terus dilakukannya. Pada 1989, ia merambah sektor manufaktur dengan mengambil alih perusahaan tekstil Mills Limited yang mengoperasikan dua pabrik tenun tekstil di Kano dan pabrik Nigerian Textile Mills Limited di Lagos.

Pada 1997, pandangan bisnis Dangote terus berkembang. Ia tak ingin lagi menjadi middlemen atau perantara. Menurutnya, menjadi perantara adalah usaha mahal.

Karena itulah ia memutuskan untuk membangun pabrik untuk memproduksi barang dagangan yang selama 20 tahun ia impor, seperti pasta, gula, gandum, garam dan tepung. Dangote secara signifikan memperluas operasi perusahaannya pada 2005 dengan membangun pabrik bernilai jutaan dolar.

Konstruksi pabrik dibiayai dengan US$ 319 juta yang berasal dari uangnya sendiri dan pinjaman US$ 479 juta dari International Finance Corporation.

Saat itu, setiap divisi manufakturnya telah dipisahkan menjadi perusahaan publik: PLC Pengilangan Gula Dangote., Perusahaan Garam Nasional PLC Nigeria, PLC Pabrik Tepung Dangote, dan PLC Semen Dangote.

Kegigihan tersebut telah menjadikan perusahaannya tumbuh besar. Pada 2017 lalu, perusahaan tersebut telah menghasilkan pendapatan hingga US$4,1 miliar dan mempekerjakan 30 ribu orang.

Perkembangan tersebut membawa Dangote Group menjadi perusahaan terbesar di Afrika Barat dan salah satu yang terbesar di Afrika.

Baca Juga :Saingi Bill Gates Orang Terkaya Di Dunia Benard Arnault

Tak Simpan Uang di Bank

Dangote bercerita kesuksesannya tersebut disebabkan oleh banyak rahasia. Salah satunya, tidak menyimpan uang di bank.

Setiap ia mendapatkan keuntungan usaha, ia selalu memutar uangnya untuk digunakan kembali memutar roda bisnis. Dangote bercerita prinsip yang diterapkannya tersebut berbeda dengan orang Afrika kebanyakan.

Menurutnya orang Afrika banyak yang menyimpan sebagian besar uangnya di bank ketimbang menggunakannya untuk mengembangkan usaha.

Selain strategi tersebut, ia bercerita kesuksesannya juga tidak bisa dilepaskan dari peran kakek nenek dari pihak ibunya yang menanamkan pola pikir bisnis ke dalam hidup Dangote pada usia muda.

Pola pikir tersebut membuat Dangote agresif dalam berbisnis. Dangote juga menekankan soal keberanian untuk punya mimpi besar.

Dangote menggambarkan perjalanan profesionalnya cukup mengasyikkan. Meskipun demikian, ia mengatakan perjalanan tersebut juga tidak luput dari hambatan.

Karena mimpi besar itulah ia berhasil mengatasi hambatan yang dihadapinya. Faktor lain, dorongan diri bahwa apa yang dilakukannya bisa memberikan dampak kepada kemanusiaan.

Saingi Bill Gates Orang Terkaya Di Dunia Benard Arnault

Saingi-Bill-Gates-Orang-Terkaya-Di-Dunia-Benard-Arnault

orangkayabaru – Bernard Arnault, orang terkaya di Eropa dan orang terkaya kedua di dunia, baru saja menandatangani akta jual beli perusahaan perhiasan terbesar di dunia, Tiffany.

Saham Tiffany & co melonjak 19% setelah LVMH umumkan membeli sahamnya, naik dari USD98,55 (Rp138 juta) menjadi USD129,72 (Rp182 juta) dalam tiga hari berturut-turut.

Ia membeli perusahaan perhiasan itu senilai USD16 M (setara Rp225 T). Pembelian perusahaan ini mendukung peningkatan drastis nilai saham LVMH dan mendorong kekayaan bersih Arnault.

Sebagai orang terkaya di Eropa, posisi Bernard Arnault dalam konstelasi orang kaya di dunia masih di bawah Jeff Bezos dan di atas Bill Gates.

Kekayaan Bezos saat ini capai kisaran USD110 M, sementara Gates USD107 M. Dan kekayaan Arnault sebesar USD107,6 M dan diperkirakan akan terus bertambah menyusul Bezos.

Maret lalu, Arnault menggeser posisi Warren Buffet sebagai orang kaya nomor tiga di dunia.

Mengenal Bernard Arnault dan sepak terjangnya

Bernard-Arnault

Arnault lahir di Roubaix, Perancis pada 5 Maret 1949 dan bersekolah di Ecole Polytechnique di Palaiseau. Mengenyam pendidikan teknik dan lulus pada 1971, ia bergabung dengan perusahaan ayahnya di perusahaan teknik sipil Ferret Savinel.

Pada 1976, ia ubah fokus perusahaan ayahnya ke bisnis real estat. Ia lantas jadi CEO perusahaan itu, menggantikan ayahnya, pada 1979.

Sebagai CEO dari perusahaan produsen barang fashion mewah, LVMH (Louis Vuitton Moet Hennessy), Arnault berhasil mendepak Gates dari daftar Bloomberg Billionaires Index.

LVMH menikmati laba pada 2018 dengan pendapatan 46,8 M euro (setara USD 2,5 M). Laba meningkat 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Keuntungan ini membantu Arnault menambah laba sebesar USD 39 M dalam jumlah kekayaannya pada 2019 saja.

Tahun 2019 tampaknya memang tahun yang sangat baik bagi para taipan Perancis sebagai orang terkaya di Eropa, baik Arnault, maupun Francois Pinault sebagai bos Kering dan Francoise Bettencourt Meyers sebagai bos perusahaan kosmetik.

Baca Juga :5 Prinsip Orang Kaya yang Mungkin Tidak Anda Pahami

Bagaimana Arnault masuk ke bisnis luxury goods dan jadi orang terkaya di Eropa

Arnault mulai berkiprah di bisnis barang mewah pada 1984. Pada tahun itu, ia akuisisi perusahaan barang mewah Financiere Agache dan ambil alih perusahaan tekstil bangkrut yang naungi Christian Dior, Boussac Saint Freres.

Perusahaan ini juga punya department store Le Bon Marche.

Ketertarikannya memang kuat di bidang seni. Ia kolektor karya-karya kelas atas dari maestro Picasso, Yves Klein, Henry Moore, hingga Andy Warhol dan Jean-Michel Basquiat.

Empat tahun setelahnya, ia beli saham besar di LVMH, yang merupakan merger antara dua perusahaan.

Kini, LVMH melaporkan keberhasilan peningkatan 15% pendapatannya di seluruh dunia. Pada paruh pertama 2019, perusahaan ini berhasil mencapai valuasi hingga 25,1 M euro atau lebih dari USD27,65 M (setara Rp389 T) dalam enam bulan pertama.

Berkat keberhasilan LVMH ini, orang terkaya di Eropa ini kini bergabung dalam klub miliarder dunia dengan kekayaan bersih di atas USD 100 M, bersama Jeff Bezos dan Bill Gates.