Orang Indonesia Yang Sukses Bisnis Properti Mancanegara

Orang Indonesia Yang Sukses Bisnis Properti Mancanegara

orangkayabaru.com Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Orang Indonesia Yang Sukses Bisnis Properti Mancanegara. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Orang Indonesia Yang Sukses Bisnis Properti Mancanegara

1. Iwan Sunito (Crown Group)
Pria kelahiran Surabaya 29 Juli 1966 ini menjadi pengusaha properti di Australia melalui Crown Group. Iwan menghabiskan masa kecil di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.Iwan menyelesaikan gelar Sarjana Arsitektur dan Magister Manajemen Konstruksi di UNSW. Pada tahun 1994 ia memulai perusahaan arsitekturnya sendiri dan membentuk Crown Group pada 1996 bersama Paul Sathio.

Crown group fokus pada residensial kelas atas dan properti komersial. Proyek Crown Group di Australia antara lain, Waterloo, Parramatta, Sydney CBD, Eastlakes, dan Green Square.Setelah 22 tahun berbisnis di negeri orang, Crown Group akhirnya mengumumkan rencana pembangunan properti pertama di Indonesia. Bersama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Crown Group akan membangun mixed use developmnent (residensial dan perkantoran) dengan nilai investasi Rp 7 triliun.

2. Po Soen Kok (Pollux Properties)
Po Soen Kok memulai bisnis di bidang garmen sejak 1980-an. Pabriknya berlokasi di Ungaran, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Keluarga Po Soen Kok memulai bisnis properti melalui Pollux Properti dengan proyek pertama di Singapura.Beberapa proyek properti Pollux adalah Park Residences Kovan, Metro Loft, Pavilion Square, dan Golden Park Residences. Setelah bertahun-tahun bermain di Singapura, keluarga Po akhirnya membangun properti di Indonesia.

Uniknya, kota pertama yang dipilih, bukan Jakarta maupun Bali, melainkan Semarang, kota yang membesarkan usaha Golden Flower Group. Properti pertama Po Soek Kok adalah Paragon City, yang terdiri atas Mal dan Hotel. Proyek kedua Pollux di Indonesuia juga berlokasi di Semarang, yakni apartemen W/R Simpang Lima.Setelah itu, Pollux membangun banyak properti di Jakarta kota lain. Po Soen Kok menempatkan anaknya Nico Purnomo Po sebagai direktur di Pollux. Selain itu, mantan Kapolri Timur Pradopo dan Mantan Direktur Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widaryatmo menjadi direktur di Pollux Properties.

3. Henry Kwee (Pontiac Land Group)
Henry Kwee merupakan peletak pondasi dari bisnis keluarga Kwee yang memiliki kekayaan sekitar US$ 5,5 miliar, versi Forbes. Keluarga konglomerat dengan kekayaan terbesar ketujuh di Singapura ini memulai bisnis textile dari Bandung, Jawa Barat.Gurita bisnis keluarga Kwee dimulai ketika Henry bersama keluarga migrasi ke Singapura pada 1958. Di Singapura Henry, merintis bisnis properti di bawah bendera Pontiac Land mulai 1959. Bisnisnya dimulai dari perusahaan arsitektur untuk perumahan yang kemudian berkembang luas menjadi gedung mewah di Singapura.

Henry Kwee meninggal dunia pada 1988, dan tapuk kendali pimpinan Pontiac Land Grup diserahkan kepada Kwee Liong Keng, yang merupakan anak tertua dari keluarga ini.Di Indonesia, Pontiac Land melakukan penetrasi melalui anak usaha Brewin Mesa, yang membangun The Lana, kondominium mewah setinggi 38 lantai di Alam Sutera, Tangerang Selatan. Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai Rp 1,3 triliun.Evan Kwee, cucu dari Henry Kwee menjadi direktur di Brewin Mesa. Evan Kwee Juga menjabat sebagai direktur direktur di Pontiac Land dan Direktur Eksekutif di Capella Hotel Group Asia.

Henry Kwee merupakan peletak pondasi dari bisnis keluarga Kwee yang memiliki kekayaan sekitar US$ 5,5 miliar, versi Forbes. Keluarga konglomerat dengan kekayaan terbesar ketujuh di Singapura ini memulai bisnisnya dari Bandung, Jawa Barat.Dalam banyak literasi, Henry memulai usaha dalam bidang textile dan properti di Bandung. Namun, sayangnya hanya sedikit yang meceritakan sepak terjangnya ketika berbisnis di Bandung.

Baca  Juga : Kesalahan Orang Kaya Baru

Anak tertua dan kedua Henry Kwee, yakni Kwee Liong Keng dan Kwee Liong Tek ,lahir di Bandung pada tahun 1945 dan 1946. Sementara anak ketiganya Liong Seen Kwee lahir di Jakarta. Adapun anak terakhir Henry Kwee adalah Kwee Liong Phing.Gurita bisnis keluarga Kwee dimulai ketika Henry bersama keluarga migrasi ke Singapura pada 1958. Meski tidak diketahui alasan migrasi tersebut, kondisi politik dan keamanan Indonesia pada saat itu memang belum stabil, termasuk untuk pengusaha.

Sementara pada tahun tersebut, Singapura masih berbentuk koloni di bawah Inggris yang memerintah wilayah itu selama 144 tahun. Setahun kemudian, Lee Kuan Yew yang membawa Singapura menjadi negara maju, terpilih sebagai Perdana Menteri.Dalam waktu kurang dari 7 tahun sejak Henry Kwee migrasi, Singapura pun berubah menjadi Republik dan berdaulat sampai sekarang.

Di Singapura Henry, merintis bisnis properti di bawah bendera Pontiac Land mulai 1959. Bisnisnya dimulai dari perusahaan arsitektur untuk perumahan yang kemudian berkembang luas menjadi gedung mewah di Singapura.Saat ini Pontiac Land memiliki lini usaha properti komersial, residensial, dan perhotelan. Propertinya, bukan hanya di Singapura tetapi juga di New York, AS, Maldives hingga Australia.

Salah satu properti milik Pontiac Land adalah Hotel Capella Singapura yang terletak di Pulau Sentosa. Hotel ini menjadi tempat pelaksanaan pertemuan bersejarah antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Utara Kim Jong Un.Di Indonesia, Pontiac Land melakukan infiltrasi melalui anak usaha Brewin Mesa, yang membangun The Lana, kondominium mewah setinggi 38 lantai di Alam Sutera, Tangerang Selatan. Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai Rp 1,3 triliun.

Evan Kwee, anak laki-laki satu-satunya dari Kwee Liong Tek, ikut mengurusi Brewin Mesa sebagai Direktur. Generasi ketiga dari keluarga Kwee yang disebut Forbes sebagai next tycoon ini, juga menjabat sebagai direktur direktur di Pontiac Land dan Direktur Eksekutif di Capella Hotel Group Asia.Henry Kwee meninggal dunia pada 1988, dan tapuk kendali pimpinan Pontiac Land Grup diserahkan kepada Kwee Liong Keng, yang merupakan anak tertua dari keluarga ini.

Royal Wedding
Generasi Keluarga Kwee tidak sembarangan dalam memilih pasangan hidup. Mereka kerap memilih istri dan suami yang berasal dari keluarga Konglomerat lainnnya. Paling tidak itu yang terlihat di Kwee Liong Keng, Kwee Liong Tek, dan Evan Kwee.

Kwee Liong Keng menikah dengan Chua Lee Eng, dari keluarga Chua, pendiri dari perusahaan Cycle and Carriage. Pernikahan keduanya, dilakukan pada Maret 1971 dan diliput oleh media The Straits Times.Sementara Kwee Liong Tek menikah dengan Donna Aratani, putri dari George Tetsuo Aratani, pendiri dari Mikasa dan Kenwood, serta philantrophy asal AS.

Dari pernikahan Kwee Liong Tek dan Donna Aratani lahir Evan Kwee yang yang pada 2013 lalu menikah dengan Claudia Sondakh, putri dari Peter Sondakh, pemilik Grup Rajawali. Pernikahan pun menyatukan keluarga konglomerat antar negara ini.