Kisah Orang Yang Punya Djarum

Kisah Orang Yang Punya Djarum

orangkayabaru.com Bukan yang ngerokok djarum yah! Tapi orang yang punya Djarum. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Kisah Orang Yang Punya Djarum. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Kisah Orang Yang Punya Djarum

Beberapa waktu lalu, Forbes kembali merilis daftar orang terkaya di Indonesia. Sepuluh besar orang terkaya RI tahun ini masih dihiasi wajah yang sama seperti tahun lalu, tetapi ada perubahan peringkat.

Apabila total kekayaan sepuluh orang paling tajir di Indonesia digabung nilainya mencapai Rp 1.231,3 triliun. Nilai itu naik dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 1.185,7 triliun.

Di posisi pertama,untuk sebelas tahun berturut turut,masih ditempati hartono bersaudara yaitu Robert Budi dan Michael Bambang, dengan nilai kekayaan Rp 522,2 triliun. Nilai kekayaan ini bertambah dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 497 triliun.

Peningkatan nilai kekayaan pemilik Grup Djarum itu bertambah karena kenaikan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), milik kedua bersaudara ini, dalam kurun waktu setahun terakhir.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia hingga Kamis (5/12/2019), harga saham BCA dalam setahun naik 32,5%. Hartono bersaudara menguasai mayoritas saham BCA dengan porsi kepemilikan mencapai 54,94%.

Jika dibandingkan akhir tahun lalu, nilai kapitalisasi pasar BCA naik hingga lebih dari Rp 100 triliun. Per 28 Desember 2018, nilai kapitalisasi pasar BCA mencapai Rp 641 triliun. Hingga kemarin (4/12/2019) nilai kapitalisasi pasar BBCA menjadi Rp 784,6 triliun atau naik 22%. Dari sinilah mayoritas kekayaan Hartono bersaudara berasal.

Robert dan Michael tak hanya punya bisnis perbankan. Asal mula usaha kedua bersaudara itu dimulai dari usaha rokok PT Djarum, perusahaan rokok yang berkantor pusat di Kudus, Jawa Tengah. PT Djarum merupakan induk dari Grup Djarum yang membawahi banyak bisnis.

Di luar bisnis rokok kretek dan BCA, Grup Djarum juga memiliki usaha elektronika (Polytron), rumah studio produksi (Visinema Pictures), perkebunan (HPI Argo), perdagangan elektronik (Blibli.com).

Kemudian agen perjalanan daring (Tiket.com), media komunikasi (Djarum Media dengan nama Mola TV dan Super Soccer TV), makanan dan minuman (Savorita, dengan merek Yuzu), dan kopi (Sumber Kopi Prima, dengan merek Delizio Caffino).
Walaupun menyandang predikat orang terkaya di Indonesia selama 11 tahun berturut-turut tak lantas membuat Bambang sombong. Itulah kesan yang CNBC Indonesia peroleh saat menemuinya beberapa waktu lalu.

Bahkan Bambang langsung semangat ketika membicarakan soal kuliner dan jajanan makanan favorit. Apalagi mengenai menu sarapan favoritnya jika berada di Kudus, Jawa Tengah.

“Kalau pagi-pagi itu saya selalu cari lentog, enak sekali itu,” ungkap Bambang.

Lentog adalah makanan seperti lontong sayur yang beralaskan daun pisang. Satu porsi lentog terdiri dari irisan lontong, tahu, tempe, dan sayur nangka.

Lebih lanjut, Bambang menyarankan untuk mengonsumsi Lentog dengan banyak cabai. Karena makanan itu paling enak disantap pedas-pedas.

“Saya kalau makan lentog, minimal cabe sepuluh,” jelasnya dengan bersemangat.

Selain Lentog, Bambang mengaku lebih suka jajanan rakyat yang ada di pinggir-pinggir jalan, bukan makanan yang fancy favorit beberapa masyarakat kelas menengah atau kelas atas lainnya.

“Saya suka sate kambing, sop kambing. Itu semua saya paling tidak seminggu sekali makan, atau dua kali,” kata Bambang.

Namun, dalam pengakuan itu, Bambang agak sedih karena kini ia agak susah menikmati jajanan-jajanan favorit. Hal tersebut dikarenakan semua orang mengenal wajahnya sejak turut serta dalam Asian Games 2018.

“Jadi, enggak bisa diam-diam lagi. Semua menyapa, waduh. Kalau begini mesti pakai wig atau brengos [brewok] buat menyamar besok-besok,” ujarnya disusul dengan tawa.

Ini bukan artinya ia keberatan dikenal atau disapa banyak orang. Bambang hanya ingin menikmati makanan kesukaan dengan tenang layaknya masyarakat pada umumnya.

“Kalau sekarang banyak minta foto-foto,” ungkapnya.

Harga saham emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), terus menguat pada perdagangan sesi II, Senin ini (23/12/2019). Pada 18 Desember lalu, saham BBCA tembus rekor tertinggi Rp 33.775/saham.

Data perdagangan BEI mencatat, pada sesi II pukul 13.45 WIB, Senin ini saham BCA naik 0,23% di level Rp 33.375/saham dengan rentang pergerakan tertinggi ada di level Rp 33.650/saham. Nilai transaksi BBCA hari ini Rp 115,77 miliar dengan volume perdagangan 3,50 juta saham.

Baca juga : Crazy Rich Dari Asia Tenggara

Asing keluar hari ini sebesar Rp 11,98 miliar seiring dengan aksi profit taking, mengingat dalam sepekan terakhir saham BBCA naik 5% dan sebulan 6,37%. Year to date atau sejak awal tahun hingga saat ini, saham BBCA naik 28% dengan kapitalisasi pasar menjadi Rp 822,86 triliun, terbesar di BEI.Dengan penguatan ini, mari kita hitung berapa nilai saham pemegang saham BBCA.

Mengacu laporan keuangan BCA per September 2019, pemegang saham bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI ini yakni PT Dwimuria Investama Andalan (milik Budi Hartono dan Bambang Hartono) sebanyak 13.545.990.000 (54,94%), sementara investor publik 10.627.910.289 (43,11%), dan sisanya komisaris dan direksi.

Majalah Forbes sebelumnya menobatkan Bambang bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, sebagai orang terkaya Indonesia per Desember 2019. Keduanya ditaksir memiliki kekayaan sekitar US$ 37,3 miliar atau sekitar Rp 522,20 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$).

Nilai kekayaan ini bertambah dari nilai yang dihitung Forbes sebelumnya yakni US$ 37,1 miliar, menjadikan Hartono bersaudara berada di posisi teratas selama 11 tahun berturut-turut sebagai orang terkaya di Indonesia.

Jadi berapa sebetulnya nilai saham milik Hartono bersaudara di BCA?

Apalagi pada 18 Desember lalu saham BCA ditutup pada level tertingginya sepanjang masa yakni Rp 33.775/saham, tentu pundi-pundi kekayannya kian bertambah.

Pada komposisi saham yang dipegang publik sebesar 2,49% juga dimiliki oleh pihak-pihak yang terafiliasi dengan Dwimuria Investama, milik dua Hartono.

Jika mengacu harga saham tertinggi itu, Rp 33.775/saham, maka nilai saham milik duo Hartono menembus Rp 457,52 triliun, atau melesat sejak awal tahun yakni Rp 354,90 triliun ketika saham BBCA berada di level Rp 26.200/saham pada 2 Januari 2019. Secara year to date, artinya nilai saham milik duo Hartono bertambah Rp 102,62 triliun.

Harga saham terendah BBCA sempat terjadi pada 17 Mei 2019 yakni Rp 25.900/saham. Jumat pekan lalu (20/12/2019), saham BBCA ditutup naik 0,91% di level Rp 33.300/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 821,01 triliun.

Kendati punya duit ratusan triliun, selera makan crazy rich ini sederhana. Beberapa waktu lalu, CNBC Indonesia bertemu dan mewawancarai langsung Michael Bambang Hartono.Walaupun menyandang predikat orang terkaya di Indonesia selama 11 tahun berturut-turut tak lantas membuat dirinya sombong, itulah kesan yang terpatri.

Bahkan Bambang langsung semangat ketika membicarakan soal kuliner dan jajanan makanan favoritnya. Apalagi mengenai menu sarapan favoritnya jika berada di Kudus, Jawa Tengah.

“Kalau pagi-pagi itu saya selalu cari lentog, enak sekali itu,” ungkap Bambang.

Lentog adalah makanan seperti lontong sayur yang beralaskan daun pisang. Satu porsi lentog terdiri dari irisan lontong, tahu, tempe, dan sayur nangka.

Dan pekan lalu, jagad Twitter pun heboh setelah pemilik akun Twitter @ayudh69 alias Agung Yudha, mengunggah foto orang paling kaya se-Indonesia itu sedang makan di sebuah warung sederhana di Semarang, Jawa Tengah.

“Yang sok kaya mentingin gengsi, yang kaya beneran mah lebih mentingin rasa”. Begitu cuitan pemilik akun Twitter @ayudh69.

Tampak Bambang, pemilik Grup Djarum dan BCA ini, khusyuk menikmati Tahu Pong Karangsaru, Semarang.”Beliau, customer setia Tahu Pong Karangsaru Semarang, Xie Xie om Hwie Siang (Michael Bambang Hartono)- Big Boss Djarum & BCA,” tulis cuitan tersebut, dikutip CNBC Indonesia, Senin (23/12/2019).